Saturday, 13 July 2013

Sepenggal Cerita Perjalanan Hidup

Gue saat ini masih belum bisa posting apapun karena gue masih sibuk dan sebenarnya ada 2 note yang masih belum selesai gue tulis dan masih berusaha untuk bisa menyelesaikan kedua note itu.
Gue sempat kaget pas lihat facebook dan ada note teman gue nongkrong dihome facebook gue.
Gue klik dan gue baca, sekarang gue cuma bisa memposting note nya diblog gue atas persetujuan teman gue itu

Selamat Membaca...........

"Namaku Roy Jekson Panjaitan, dilahirkan di kota Langsa pada tanggal 25 Mei 1988. Aku adalah anak ke-8 dari 8 bersaudara. Lahir kedunia dengan kedua orang tua yang lengkap dan memiliki keluarga bahagia merupakan hal yang diharapkan setiap orang, tidak ada yang lebih baik daripada itu. Namun keberuntungan belum berpihak kepadaku saat itu, dilahirkan oleh seorang ibu tanpa ditemani sang ayah. Ayah bukan pergi meninggalkan kami selamanya ke alam yang berbeda, tetapi dia meninggalkan kami karena tidak mampu mengendalikan hasrat duniawinya. Hingga aku SD, selalu bertanya dalam hati kemanakah dia pergi? dan apa yang terjadi padanya? Aku tidak mengenal sosoknya dengan jelas. Tidak banyak yang kuketahui soal siapa dia! Aku lelah mendengar soal keburukannya dari orang lain, aku masih sangat kecil dan tidak terlalu paham tentang apa yang terjadi dikeluargaku. Teman-teman di sekolahku selalu bertanya disaat kenaikan kelas, mana ayahmu? kenapa dia tidak pernah datang mengambil raport mu? kenapa selalu walimu yang datang? atau ibumu saja? Sejenak aku terdiam dan tidak dapat berkata apapun, yang keluar dari mulutku adalah "dia sedang dinas di luar kota kata ibuku". Tetapi ada teman sekolahku yang tau soal keluargaku dan dia mengatakan semuanya ke teman-teman lainnya. Ada yang tidak perduli, ada juga yang menjadikan itu untuk mengolok-olokku hingga aku menangis. Sulit awalnya untuk menerima apa yang telah dan sedang terjadi, aku tidak banyak tahu tetapi aku harus ikut menanggung. Seorang bocah yang duduk di bangku Sekolah Dasar harus kuat menjalani kehidupannya. Menangis bukan lagi hal yang aneh bagiku, bermain merupakan andalanku untuk bisa kembali tertawa.

Lain lagi dengan ibuku, dia seorang wanita yang sangat kuat, pemberani, dan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Aku tidak tahu harus menyebutnya apalagi selain ibu yang luar biasa bagi anak-anak dan keluarganya. Saat dia melahirkan ku, banyak yang mengatakan bahwa aku adalah anak yang tidak diharapkan dan diduga karena dirumah sudah ada 7 orang anak dengan jarak yang begitu rapat. Bidan yang membantu persalinan ibuku meminta untuk mengadopsiku, tetapi ibuku tetap bersi keras tidak mau memberikanku kepada bidan tersebut. Meskipun keadaan keluargaku susah pada saat itu, ibu tetap bertekad untuk membesarkan ku. Sejak anak kedua dan selanjutnya ayahku sudah sering cek-cok dengan ibuku, dan dia jarang pulang kerumah. Mereka sudah sering cek-cok dan kembali rujuk lagi. Ibuku sudah cukup sabar dengan tingkah laku ayahku, hingga saat aku lahir dan itu masih terjadi, ayahku pergi ntah kemana sesukanya dan tidak menafkahi anak-anaknya. Ibuku membesarkan kedelapan anaknya dengan keringatnya sendiri, ayahku tidak mau tau apa yang terjadi pada kami anak-anaknya dan bagaimana kami makan juga sekolah. Ibuku harus berjuang sendiri, aku masih ingat apa yang dilakukan olehnya. Mulai dari berkebun singkong dan sayur mayur, jualan kelontong, jualan gorengan, dan sampai harus berjualan sapu + gula merah dari satu kota ke kota lainnya. Terharu rasanya kalau mengingat masa lalu kami, betapa lidah terbiasa dengan makan nasi dan garam atau minyak jelanta. Belum lagi pandangan sebelah mata dari tetangga dan bahkan sebagian keluarga kami tentang keadaan kami. Tetapi itu semua tidak membuat semangat ibuku luntur, dia tetap melihat kedepan dan maju menghadapi badai apapun yang datang menerpa. Meskipun ada yang mencibir ibuku, tidak sedikit pula yang memberikan dukungan semangat kepadanya dan salut pada apa yang dilakukannya. Dia tetap setia pada keluarga dan anaknya meskipun dia ditinggal oleh sang suami yang ntah dimana rimbanya pada saat itu, tak terlintas sedikitpun dibenaknya untuk menikah lagi.

Ketika aku masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, aku pindah ke kota lainnya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik lagi. Sulit awalnya bagiku untuk hidup sendiri tanpa keluarga, hampir setiap malam aku menangis. Belum lagi lingkungannya sangat keras, aku tidak terbiasa dengan perilaku mereka. Tidak mudah bagiku untuk bisa mengelola keuangan yang ala kadarnya, ibu tidak memberikanku banyak duit... hanya sekedarnya saja. Setiap bulan dia mengirimkan beras kepadaku dan ikan teri/ikan asin yang dibelinya untuk 2-3 minggu. Asupan gizipun seadanya, bisa makan dan perut terisi saja sudah berterimakasih. Tak pernah terlintas dalam kepalaku untuk bisa bergaya seperti teman-temanku yang lain. Di kelas ada teman yang baik kepadaku, ada juga yang meremehkanku. Tapi itu bukan masalah besar, aku sudah terbiasa karena masa kecilku sudah mengajarkanku banyak hal dari penggalan pengalaman hidup :)

Tibalah aku untuk melanjutkan study ke tahap selanjutnya, masih di kota yang sama dan lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah menengah pertamaku. Disinilah langkah awal ku fokus pada satu bidang dimulai. Aku tidak lagi mencoba untuk menguasai seluruh mata pelajaran di sekolah, aku memilih untuk fokus pada satu titik yang pernah membuatku dipermalukan di SMP. Mata pelajaran ini selalu terukir dengan tinta merah di raport ku, dan aku bertekad untuk memperbaiki kesalahan yang pernah kuperbuat. Bahasa Inggris menjadi pilihan fokusku, tidak mudah kawan bagiku untuk mulai dari nol. Kemana-mana aku membawa kamus kecil, kemudian bicara sendiri tanpa memperdulikan sekitar. Sempat aku berfikir bahwa aku telattt, harusnya itu kulakukan sejak awal masuk SMP. Tetapi guru di sekolah ku mengatakan "Tidak ada istilah terlambat dalam belajar", mantra ini berhasil mengembalikkan semangatku yang sempat hilang. Tiada hari tanpa vocabulary, semua lagu kesukaanku diterjemahkan (meskipun masih acak kadul). Paling tidak aku punya kemauan dan keberanian, dan itu tidak mudah. Aku berusaha dan berjuang keras, tahun kedua di SMA aku mencoba untuk mengikuti perlombaan pidato Bahasa Inggris di Sekolah. Usahaku tidak sia-sia, aku mendapat juara 3 untuk tingkat SMA, dan satu-satunya perwakilan dari kelasku. Terharu melihat teman-teman bangga dan senang akan piala kemenangan tersebut. Tahun ketiga di SMA aku mengikuti perlombaan lainnya, saat itu aku ikut lomba PAS (Penyiar Anak Sekolah) di kota Medan. Sebenarnya aku tidak niat ikut lomba ini, niat awalnya hanya menemani teman yang mendaftar. Kemudian dipaksa untuk mencoba memasukkan formulir beserta persyaratannya. Dari banyaknya kontestan dan ketatnya tahap audisi aku berhasil masuk 10 besar finalis. Lagi-lagi aku merasa beruntung dan sangat berterimakasih pada-MU TUHAN. Ini merupakan langkah awalku memasuki dunia kerja. Aku bisa menghasilkan sedikit uang dari pekerjaan baruku tersebut :)

Libur Natal dan tahun Baru hampir tiba dan aku merencanakan untuk mengunjungi abangku yang berdinas di kota Banda Aceh. Dia seorang angkatan darat yang bertugas di Aceh, 23 Desember 2004 aku berangkat dari Medan menuju Banda Aceh. Ini pertama kalinya aku datang ke Banda Aceh meskipun lahir dan besar di Aceh. Ibu tidak tahu soal kepergianku, hanya satu orang kakak perempuan saja yang tau soal keberangkatanku ke Banda Aceh. 26 Desember 2004 jam 7 pagi aku terbangun karena kasur bergoyang-goyang. Tadinya aku berfikir ada teman abangku yang iseng untuk membangunkanku. Tetapi tidak seorangpun terlihat di dalam Barrack, semuanya sedang sibuk kurvey di luar. Aku kaget dan cepat-cepat beranjak dari kasur lalu keluar barrack. Semua orang sudah panik di luar dan berteriak Gempa Bumi bahkan menangis. Hampir satu jam gempa bumi tersebut berlangsung. Sekitar pukul 8:10wib dentuman seperti bunyi BOM terdengar beberapa kali, waktu itu yang terfikir adalah sedang ada gencatan senjata di daerah pegunungan. Tidak lama dentuman bunyi, salah satu teman abangku bercerita soal tsunami. Tidak banyak yang tau tentang Tsunami pada saat itu, bahkan yang aku tau itu hanya ada di Jepang. Orang yang mengatakan ini telah pergi untuk selamanya, hingga saat ini aku masih mengingat percakapan kita sebelum Ombak Raksasa menghantam kita bang! Selamat jalan dan tenang disana yah. Hanya aku dan abangku yang selamat dari ribuan orang yang tinggal di Batalion. Keluargaku sudah dalam keadaan panic begitu mengetahui keberadaanku saat itu. Kejadian ini selalu ku ingat sampai kapanpun, bahkan saat menulis note ini saja aku masih meneteskan air mata. Terimakasih Tuhan atas berkat dan anugerah-MU. 

Moment kelulusan SMA merupakan salah satu moment yang sudah lama aku tunggu. Hasrat untuk melanjutkan study ku ke Universitas harus terhenti, ibuku tidak mampu membiayaiku untuk kuliah. Secercah harapan kandas bak kapal tenggelam. Aku memutuskan untuk kembali ke kota kelahiranku dan mencoba peruntungan di dunia radio. Aku melamar menjadi seorang penyiar sembari menambah pengalamanku. Hampir 6 bulan aku bekerja di radio, namun tidak pernah mendapatkan gaji. Aku melakukannya dengan ikhlas dan berdasarkan keinginanku untuk belajar. Tetapi kakak ku mempermasalahkan kerjaanku yang tidak pernah digaji, hehehe. Tidak jarang kami bertengkar, hingga suatu hari aku menjawab pertanyaannya dengan kata-kata yang ntah darimana aku dapatkan "Aku akan dapat rejeki berlipat" dari apa yang telah ku kerjakan disini". 1 bulan kemudian aku mencoba merantau ke Banda Aceh tanpa kejelasan. Lagi-lagi aku memulai cari Radio dan mencoba jadi penyiar. Puji Tuhan aku diterima disana, sambil mencoba-coba kirim lamaran kerja ke Organisasi Internasional non Pemerintah. Satu bulan kemudian salah satu INGO memanggil untuk wawancara. Dari sekian banyaknya kandidat, akulah yang paling beruntung. Satu-satunya lulusan SMA dan tidak memiliki pengalaman kerja sebelumnya, tetapi dipilih untuk bekerja. Luar biasa senangnya dalam hati, berteriak dan berterimakasih pada Tuhan. Selalu saja aku mendapatkan jalan disaat susah dan gundah. Lama aku bekerja namun tetap kepikiran untuk melanjutkan study ke Universitas. Tahun ke-empat aku bekerja, akhirnya mendapatkan kesempatan itu.

Tahun 2009 aku memutuskan untuk pindah ke Bandung no matter what will happen. How can I survive? or How if I have no money in the half way? How can I get job there? Those are common questions and surrounded my mind. Setelah dijalani, semuanya berjalan dengan baik. Tuhan tetap memberikanku kemudahan, rejeki, dan berkat melalu berbagai cara. Hingga memasuki tahun akhir, aku masih tetap banjir tawaran kerja dan mendapat banyak kesempatan untuk melihat tempat dan dunia baru. Mimpi yang telah lama kini terwujud, harapan ibu dan keluargaku telah dijawab-NYA. Tanggal 22 Mei 2013 aku mendapat gelar Sarjana dengan predikat Cumlaude. Kupersembahkan ini semua untukmu Ibu, kakak, dan abangku. Bahagia, haru dan syukur bersatu padu. Ntah bagaimana lagi aku mengucap syukur kepada Tuhan untuk semua ini. Hari ini aku kembali teringat akan perjuangan panjang ibu untuk ke-8 anaknya tercinta. Aku bisa menjadi seperti ini bukan karena usaha sendiri, tapi karena DIA dan Ibu. Banyak hal yang telah  kulalui dan hadapi bersamanya dan ke-7 saudara-saudari. Semangat ibuku tidak akan pernah pudar sampai kapanpun, Aku selalu melihat semangatnya hingga saat ini. Dibesarkan tanpa seorang ayah bukan alasan bagiku untuk tidak mensyukuri apa yang kumiliki dan kulewati, tidak ada satupun yang sia-sia. Suka-duka selalu mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jangan jadikan keadaan sebagai alasan dan keterbatasan untuk melangkah. Masih ada banyak pintu yang harus kubuka dan lalui, tetap semangattt dalam menggapai cita-cita. Percayalah maka itu akan ada, berdoalah maka akan diberi jalan, berusahalah maka akan meraihnya :) Mom, I always LOVE you! I dedicate this to you."

Cerita yang menarik bukan? Tentang perjuangan seorang manusia untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Perjuangan yang panjang dan melelahkan tapi dijalani dengan ikhlas dan penuh syukur.
Gue kenal baik siapa dia, dia juga merupakan salah satu sahabat gue. Dan dia memang seorang pekerja keras.
Setelah gue baca note ini, gue cuma bisa bilang terkadang masa lalu itu selalu ingin kita lupakan, terlebih hal itu merupakan masa kelam dalam hidup kita, masa sulit, masa kita merasa terhina. Tapi baik buruknya masa lalu merupakan hal berharga dalam hidup kita. Masa lalu mengajarkan dan memberikan pengalaman bagi kita.
Masa lalu yang kelam, mengajarkan kita untuk tegar, kuat, optimis untuk menjadi lebih baik dan merubah kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
Masa lalu yang indah mengajarkan kita untuk bersyukur dan berusaha untuk lebih baik lagi.
Apapun masa lalu kalian, apapun latar belakang kalian, dan apapun masalah kalian. Jangan pernah berhenti untuk terus berlari mengejar impian kalian. Wujudkan itu walaupun harus melalu jalan yang sulit, tapi percayalah semua itu akan terbayar ketika kalian berhasil mencapainya.

-Based On True Life Story-

Tuesday, 18 June 2013

Buku Ini Aku Tutup

Pagi tadi jam 9.46, gue melaju pake motor gue keluar dari gang kosan. Gue kirim sms buat temen - temen gue, "Thank Guys,,,See you". Dan hape gue mulai rame, mereka membalas. Gue masih sempat untuk buka sms dari mereka. Gue lanjut melaju sampai gue berhenti untuk pakai masker, helm dan sarung tangan. Dari jauh gue lihat Dode, sampai akhirnya gue kita berdua ngobrol dan jalan sampai kampus. Jujur pas lagi ngobrol sama Dode, mata gue berkaca - kaca. Pas didepan kampus pun, sebelum gue berangkat, kita masih sempat ngobrol, diskusi soal skripsi. Dan entah, gue nangis. Dibalik helm dan masker yang gue pakai itu, gue nangis.
Mungkin untuk kalian rasanya gak perlu sampai nangis. Tapi buat gue, mereka berarti. Gue sangat menghargai pertemanan antara gue dengan mereka.
Mereka adalah teman dekat sekaligus sahabat pertama gue. Gue gak pernah punya teman sedekat itu. Gue yang sedari dulu selalu melupakan hal - hal yang pernah terjadi dimasa lalu, dan gak pernah punya sahabat, sekarang gue punya mereka, gue menghargai mereka.
Jujur, sepanjang jalan di Padalarang, gue nangis lagi. Itu karena Padalarang adalah daerah perbatasan antara Bandung - Cianjur dan itu berarti gue akan keluar dari Bandung.
Dibalik masker dan helm, gue bilang:
"Terima kasih Bandung, disini gue bisa belajar dijenjang perguruan tinggi. Disini gue punya sahabat dan belajar mengenai arti persahabatan yang gak pernah gue miliki sebelumnya. Gue benar - benar menghargai persahabatan kita. Gue akan selalu ingat kebersamaan dan segala momentum yang pernah kita alami. Kalian adalah keluarga gue, sampai kapanpun. Terima kasih karena telah bersedia jadi sahabat gue, berbagi segala hal dengan gue. Gue minta maaf kalau gue punya banyak salah ke kalian semua. Love you guys"

Memang itu bukan akhir dari segalanya, masih ada kemungkinan bisa ketemu lagi tapi itu entah kapan dan terlebih mereka adalah saudara gue, keluarga gue.
Sekarang gue dihadapkan antara dua pilihan, melupakan kalian atau mengingat kalian.
Kalau ada diantara kalian yang baca note ini, tolong sampaikan ke yang lain, gue sayang kalian. Dan gue minta maaf jika gue memilih untuk melupakan kalian. Gue juga berharap  kalian mengerti akan pilihan gue itu.
Pet, kalau kau yang baca, kau pasti paham kenapa, karena kau baca isi blog ini dari posting terbaru sampai postingan lama. Kau pasti pernah baca note "Bully" diblog ini, dan alasan itulah kenapa gue selalu menghapus dan melupakan masa lalu gue. Tapi jujur gue juga berharap, gue bisa mengingat kalian sebagai salah satu hal yang istimewa dalam hidup gue.

Jujur pas lagi ngetik ini juga sebenarnya gue hampir nangis lagi, mata gue berkaca - kaca tapi gue tahan dan untunglah puncak lagi kabut, suasana dingin bisa jadi alasan kenapa mata gue berkaca - kaca.
Lagipula, malu lah gue kalau harus nangis depan umum.
Dengan terpublishnya note ini, maka buku cerita kehidupan di Bandung, gue tutup.

See You Guys


Puncak, 18 Juni 2013

 
       The Hipo

Tuesday, 14 May 2013

Selamat Anda,,,GILA!!!!!!!

Yeah note ini gue buat sesuai dengan kenyataan yang terjadi
Maksudnya bukan berarti gue gila ya
Note ini gue buat setelah membaca ulang hasil karya gue dalam membuat special thanks to untuk disisipkan di skripsi gue.
Ok here we go

Bandung 12 Mei 2013 lalu, gue membuat lembar - lembar yang diperlukan untuk melengkapi skripsi gue. Gue mulai membuat lembar pengesahan, motto dan dedikasi, kata pengantar dan special thanks to, daftar riwayat hidup gue dan yang terakhir menyempurnakan lembar daftar isi.

Saat akan memasuki sesi khusus untuk temen - temen gue, gue memulainya dengan kata - kata yang normal tapi setelah masuk untuk menyampaikan ucapan terima kasih satu per satu untuk mereka, otak gue mulai iseng. Gue tulis penggambaran mereka yang sesuai dengan hasil analisa gue tentang mereka.
Mari kita lihat:

"Untuk sahabat, terima kasih atas dukungan, motivasi secara langsung atau tidak. Terima kasih telah bersedia menjalin persahabatan yang erat selama ini. Gue harap kita akan terus jadi sahabat selamanya. Dan kalian sudah seperti saudara – saudari gue. Cheers for Tomcat……

Jung, thank’s jung atas printernya. Tanpa printer lu mungkin skripsi gue gak akan bisa berjalan dengan semestinya. Makasih juga sudah bersedia jadi bendahara kita selama ini yang setiap jalan pasti langsung ludes karena ditagih dengan sadis oleh mu. Kau memang wanita penagih hutang berwajah bengis. hahahahaha………….

Pet, thank’s pet udah bersedia jadi yang paling tua diantara kita (beneran loh dia yang paling tua). Tanpa lu mungkin kita yang terlibat di note something stupid di blog gue itu gak akan bisa punya cerita yang secetar itu. Makasih juga atas tawaran kerja yang sempat lu tawarkan ke gue, tapi gue mau nyari sendiri, biar perjuangannya lebih terasa.

Kunti, thank’s banget udah bersedia kita hina, tapi serius, tanpa lu gak rame, gak ada yang bisa kita hina. Dan inget, nge’kos itu bukan suatu bentuk kedewasaan jadi cepatlah dewasa kawan.

Dode, thank’s dode atas diamnya lu selama ini tapi dibalik diam itu ternyata lu “gila” juga orangnya. Dan jangan lupa tupai terbangnya ya kalo lu pulang ke Ternate sana. Gue gak mau tau pokoknya harus nyampe itu tupai kerumah gue.

Kimonk, thank’s monk atas ketulusan hati dan kesediaannya untuk selalu gue bully. Tapi serius lu adalah orang kedua yang paling polos diantara kita semua setelah si Kunti jadi enak untuk di bully hehehehe……..

Lekboy atau Bony, thank’s banget udah menghibur kita semua dengan wajah tak berdosa dan lidah berdosa mu. Diantara kita, lu adalah orang yang amat “aneh” dengan kelakuan “aneh” yang sering lu lakukan. Dan jangan  lama – lama kuliahnya, kita semua nunggu gelar mu secepatnya.

Mado, hoy bro, thank’s atas perlakuan lu ke gue sewaktu kita di Phuket. Gara – gara lu yang lari digonggong anjing itu berhasil buat gue kayak orang bodoh karena ikutan lari tanpa tau sebabnya dan ternyata si anjing ada dibalik pagar. Dan lu adalah orang yang stay cool diantara kita, kita juga tunggu gelar lu secepatnya.

Al, makasih atas kesediaanya menjadi coach, manager dan pemain dalam tim futsal. Lu emang keren Al. Tapi gue kecewa kaos timnya gak jadi bikin. Makasih juga atas hiburannya waktu karaoke diulang tahunnya si Kunti. Kapan – kapan kita karaoke lagu dangdut lagi dan joget – joget sepuas kita.

Minah, alhamdullilah kita berdua bisa lulus bareng dan menjadi putra daerah dari Majalengka yang cuma berdua aja bisa melaju dan lulus dari Jurusan Hubungan Internasional disidang gelombang pertama tahun 2013. Diantara kita semua, lu adalah orang yang pertama gue kenal karena kita daftar dan ngurus bareng waktu masuk kuliah dulu.

Semoga kita semua Tomcat selalu berada dalam lindungan Allah, selalu diberi rahmat-Nya, selalu diberi kemudahan oleh-Nya dan bisa mencapai kesuksesan seperti apa yang kita inginkan. Amin.
“Thank’s for being my friend and I hope we always stick together forever as brother and sister” (Cung)"

Jelas banget kan dibagian awal dan akhir, kata - katanya terlihat normal. Tapi coba kita lihat pada saat gue mulai mengucapkan kata - kata yang dimulai dari si Jung sampe terakhir si Minah, absurd.

Jung, pada kenyataannya memang dia adalah wanita yang amat sangat ditakuti diantara kita semua. Kalo pada umumnya terdapat tulisan "AWAS ANJING GALAK" maka kita juga punya "AWAS JUNG SIAP MENAGIH HUTANG".

Pet, yang emang kenyataannya dia secara umur lebih tua dari kita semua. Dia ya sebagai yang paling tua jadi patut dijadikan sebagai sesepuh -seorang kakek tua yang udah penyakitan, badan kurus, batuk - batuk, jenggot putih panjang menjuntai, dan membawa tongkat untuk membantu dia berdiri- pokoknya udah siap mati hahahaha...............

Kunti, si wanita yang pernah gue buatkan note khusus tentang dia yang berjudul "Rintihan Hati Yang Terdalam" ini memang selalu diliputi rasa galau yang tiada ujung. Persis kaya seorang yang terkena penyakit yang awalnya stadium rendah hingga akhirnya menjadi stadium akhir dan divonis dokter akan mati dalam hitungan hari, baru lah mungkin rasa galau dia bisa hilang. Dia ini adalah seorang yang perasa tapi aneh. Ciri khas dari dia adalah selalu mengucapkan kata "Hati" kapanpun dan dimanapun ia berada. Ia selalu menganggap bahwa pergi merantau dan kost adalah suatu bentuk kedewasaan, absurd.
Dan dia adalah ornag pertama yang balik ke kampung halamannya di Batam.

Dode, wanita yang sedikit bicara tapi sekali ia berbicara maka akan mengeluarkan racun yang lebih berbahaya dari racun ular yang paling beracun sekalipun. Dia dikenal sebagai orang yang simpel dan cuek tapi dia ini sangatlah kalem. Baru - baru ini dia curhat sama gue kalo dia mulai merasakan kesepian karena satu per satu dari kita udah mulai balik ke kampung masing - masing, yang diawali Kunti, Minah dan yang paling baru adalah Al. Gue mungkin akan menyusul kalo urusan sertifikat dan lain - lain selesai.

Kimonk, dia adalah korban psikologis dan psikis dari skripsi. Dia sering bertingkah aneh dengan melakukan hal - hal bodoh. Oh iya itu kan udah dari dulu, sorry gue lupa hahahaha.......... Tapi yang paling beneran terjadi adalah gangguan psikis yang dialami yaitu penyusutan berat badan. Badannya kurus persis orang cacingan.

Lekboy atau Bony, pria asal Cicalengka ini merupakan mahkluk ciptaan tuhan yang paling unik. Dia diciptakan dengan memiliki wajah sangat menawan, ganteng, baby face dan lugu. Perempuan mana yang gak akan langsung jatuh cinta jika melihat pria yang satu ini? Maka dari itu dia sering kita sebut Lekboy. Tapi tolong jangan tanya kenapa dia juga bisa disebut Bony. Please jangan pernah tanyakan hal itu, thanks.
Tuhan memang maha adil, tuhan memberinya kelebihan dan juga memberinya kekurangan. Kekurangan yang ia miliki adalah sering ia bertingkah aneh yang selalu membuat kita tertawa dan dia juga mempunya lidah yang sangat berbahaya jika sudah menghina orang lain, biasanya yang selalu menjadi korban kebiadaban dia adalah Kunti. Tragis.

Mado, seorang pria yang kalem dan selalu stay cool ini adalah pria yang juga jarang bicara -itu dulu, sekarang udah mulai sama tingkahnya dengan kita semua, ERROR-. Hal favoritnya adalah waria Thailand. Waktu di Phuket tahun lalu, gue pernah liat dia lagi perhatiin waria - waria cantik yang berpakaian super seksi dan berlalu lalang didepan mata kita. Dia dengan amat serius memperhatikan mereka. Gue jadi curiga kayanya dia ini suka sama waria. Atau dia lagi memilih dan memilah waria mana yang cocok untuk dia jadikan istri? Disorientasi sex yang luar biasa.

Al, pria ganteng asal Kuningan ini merupakan seorang laki - laki yang mempunyai postur badan yang sempurna, tinggi dan tegap. Dia ini memiliki senyum yang khas, terkadang terdapat lesung pipi disaat ia tersenyum. Dia juga merupakan manajer, coach dan sekaligus juga pemain dalam tim futsal yang ia bangun. Gue ya salah satu pemain yang tergabung dalam tim futsalnya. Tapi dia juga memiliki pola pikir yang aneh. Kalo ngobrol dengan pria satu ini, jangan dulu percaya karena pada menit awal dia akan mengatakan A tapi dalam hitungan detik berubah menjadi Z. Hebatkan, gak perlu berurutan dari A ke B dan seterusnya, tapi dari A langsung ke Z. Luar biasa.
Huh, dia pulang ke kampungnya kemarin sore.

Minah, wanita yang merupakan orang yang gue kenal duluan dibanding yang lain, karena dulu waktu daftar kuliah, gue sama dia ngurus bareng. Tapi saat itu dia ditemenin sama tantenya, dan gue kenal duluan ya sama tantenya yang nyapa gue pertama kali. Dikarenakan pada waktu itu gue masih asing sama daerah Bandung, dan tante si Minah ini nawarin untuk bareng jadi ya sekalian aja deh. Dan waktu sidang kemarin, gue dan dia berhasil sidang bareng. Kita berdua berasa kaya putra daerah dari Majalengka karena pada saat pembacaan biodata oleh penguji sidang, mereka melontarkan kata - kata seperti "Kalian beneran dari Majalengka?", "Kalian ini sama - sama dari Majalengka" dan sebagainya. Jadi setelah selesai yudisium sidang, kita keluar ruangan sidang yang bareng dengan peserta sidang akhir lainnya itu berasa kaya putra daerah yang berhasil mengharumkan nama Majalengka dan kalo kita pulang ke Majalengka, kita bakal disambut oleh Bupati, diberi penghargaan dan sejumlah uang. Tapi sayang banget itu beneran gak mungkin.

Pada saat kalian selesai membaca note ini, gue cuma bisa bilang "Selamat Anda,,,,GILA!!!!"

Friday, 3 May 2013

Cerita Sarjana Muda

Hari ini tinggal menunggu hitungan jam maka akan berubah menjadi hari Sabtu tanggal 4 Mei 2013 dan itu artinya genap 2 hari gue menyandang gelar sarjana muda yang bertitel Sarjana Ilmu Politik, S.Ip
Tanggal 2 Mei 2013 kemarin, gue beserta 12 teman yang lain menghadapi sidang akhir yang berarti itu adalah tahap akhir sebagai mahasiswa.
Gue bersyukur banget bisa menyandang gelar ini dan bisa menuntaskan studi S1 tepat pada waktunya, malah hanya dalam waktu yang relatif singkat yakni 3,5 tahun. Sungguh perjuangan yang sama sekali gak mudah untuk bisa seperti sekarang karena jujur sebenarnya musuh utama gue saat jadi mahasiswa dulu adalah malas. Seperti yang orang ketahui bahwa musuh utama manusia adalah malas, dan itu juga adalah musuh utama gue serta mungkin sebagian orang. Tapi gue benar - benar bersyukur bisa menghadapi fase - fase dimana saat gue harus terus kuliah dalam situasi dan kondisi apapun demi mencapai serta menghidupi impian gue, repot karena tugas, pusing mengurusi praktikum yang harus berdebat dan menerima kenyataan praktikum gue dan 2 orang teman yang lain ditolak pembimbing, pusing + stress mengerjakan skripsi dengan perjuangan yang menguras banyak pikiran dan adrenalin, terlebih jika melihat teman yang lain sudah mencapai bab berikutnya atau mendapat persetujuan pembimbing untuk proses berikutnya. Gue gak akan melupakan hal - hal yang pernah gue alami selama kuliah dan dalam satu bulan kebelakang. Selama satu bulan kebelakang, adrenalin gue benar - benar terpacu.

Sekarang gue udah resmi menyandang gelar sarjana. Gue sempat merasa bahwa gelar sarjana itu keren dan dipandang. Gue pun sempat merasa senang yang akhirnya gue bisa menuntaskan studi S1 dengan waktu yang relatif singkat. Tapi euforia itu hanya berlangsung dalam 1 jam saja. Jujur, gue merasakan ketegangan luar biasa selama proses yudisium. Gue tambah tegang saat pembacaan hasil sidang dan skripsi gue oleh ketua jurusan Hubungan Internasional. Gue bisa merasa lega ketika proses itu berlalu dan dengan ketukan palu dari ketua jurusan yang menyatakan gue beserta 12 teman yang lain secara resmi dinyatakan sebagai sarjana. Lewat 1 jam dari prosesi yudisium, gue merasa biasa aja akan gelar yang telah berhasil gue raih. Gue jadi merasa lain, gue merasa bahwa gelar yang gue dapat ini harus bisa gue pertanggungjawabkan sebagaimana mestinya.

Sekarang gue harus terus menatap kedepan, berusaha mengejar dan mewujudkan impian gue. Gue harus bisa secepat mungkin mendapatkan pekerjaan, mengumpulkan pengalaman, mencari beasiswa S2 dan mengumpulkan modal untuk mendukung prosesi beasiswa S2 gue.
Bismillah,,,,,Semoga bisa tercapai semua
Amien,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Wednesday, 17 April 2013

Dosen Absurd

Entah kenapa gue jadi bayangin diri gue jadi seorang dosen. Gue dipercaya untuk mengajar beberapa mata kuliah. Dan gue akan mengajarkan materi perkuliahan dengan gaya gue sendiri. Yap, gaya gue sendiri. Setiap kali pertemuan, gue akan ngajak mahasiswa gue untuk belajar diluar kampus. Entah itu disebuah kafe atau lapangan terbuka seperti lapangan luas Tegal Lega atau berada disebuah GOR, GOR Saparua. Atau mungkin dilapangan Gasibu. Jadi mahasiswa juga selain belajar juga bisa ber'narsis didepan gedung sate. Gue tau banget deh pemikiran para mahasiswa cewek, yang selalu gatel dengan kamera dan mengaku photogenic. Absurd.

Tadi gue bilang kalau akan mengajar dengan gaya gue sendiri. Iya, gue akan memaksakan menanam pemikiran gue ke setiap mahasiswa gue. Dan jika ada dari mereka yang berdebat dengan gue, gue akan dengan sangat stylish menolak setiap argumen yang diberikan. Dan lagi, gue akan memaksa pemikiran gue. Jadi mau gak mau si mahasiswa tadi cuma akan manut - manut meng'iya'kan setiap perkataan gue.
Gue gak peduli tentang penilaian dari mahasiswa untuk diri gue. Pada intinya, gue memegang kendali penuh atas pemikiran setiap mahasiswa gue.

Untuk urusan penilaian. Gue akan berikan sistem penilaian yang akan sangat membuat mahasiswa gue terpukul tapi termotivasi. Yakni dengan menggunakan satuan angka kecil. Jika dosen lain memakai angka 100 sebagai nilai yang terbagus, maka gue akan menggunakan angka 50 sebagai nilai terbagus. Mungkin untuk mahasiswa baru jelas ini sebuah penghinaan bagi pemikiran mereka tapi bagi mahasiswa angkatan lama ini akan menjadi sebuah "motivasi" untuk menaikkan IPK dengan mati - matian pada Ujian Akhir Semester.
Tapi itu saja masih belum cukup. Gue juga akan memberikan tugas bagi mahasiswa gue dengan sistem penilaian yang sama namun sangat berpengaruh terhadap nilai - nilai mahasiswa.
Jika setiap mahasiswa mendapatkan nilai yang lumayan bagus pada UTS dan UAS tapi tugas UTS dan UAS nya hancur ya dengan simple, nilai mereka pun akan anjlok. Faktor kehadiran pun mempengaruhi. Dan gue juga pasti akan hafal dengan setiap muka dari mahasiswa gue, jadi kalo dikampus itu ada sistem ujian khusus, maka gue minta si mahasiswa itu menghadap gue secara langsung. Langkah atau tahap ujian khusus itu sendiri ya terserah gue, mau gue kasih tugas, ujian lisan, membuat makalah, membuat paper atau membeli buku. Tapi hal yang gue suka itu ya ujian lisan dan membuat paper. Kenapa? Dalam ujian lisan, jelas ada permainan psikologis didalamnya. Si mahasiswa akan mati - matian belajar materi perkuliahan lalu kemudian menumbuhkan rasa percaya diri tapi begitu berhadapan langsung dengan gue, sang dosen, psikologis si mahasiswa pun akan berubah menjadi gugup, ragu - ragu dan menjadi "blank". Ini karena adanya tekanan yang kuat dan atmosfer yang dirasa memberatkan pikiran dan jiwa si mahasiswa. Gue paling suka kalo melihat mahasiswa yang berakhir dengan "blank" lalu gue akan dengan sangat enak bilang "ah kamu itu belajar dulu gak sih sebelumnya? masa gini aja gak bisa? nilai kamu gak berubah kalo gini". Tragis dan ironis.

Untuk membuat paper. Gue suka hal ini dikarenakan gue merasa tertarik untuk mengetahui pemikiran si mahasiswa melalui tugas paper yang gue berikan. Gue akan dengan sangat seksama membaca paper hasil karya mereka. Lalu, gue akan bertanya mengenai kejelasan isi dari paper tersebut. Jika si mahasiswa itu mampu membaca jalan pikiran gue dan berani mendobrak pemikiran gue dengan pemikirannya sendiri maka gue akan memberikan nilai yang sepadan tapi jika si mahasiswa itu "terpeleset" saat menjelaskan yang bermaksud untuk mendobrak pemikiran gue, maka gue akan meluruskan hal tersebut tapi dengan menekankan pemikiran gue dan menganggap tugas papernya salah. Meskipun si mahasiswa itu sudah memberikan penjelasan tapi argumen gue lah yang paling kuat karena tetap menekankan pemikiran gue yang meskipun menurut si mahasiswa justru pemikiran gue yang salah. Gue gak akan peduli, karena masa depan si mahasiswa ada ditangan gue.

Selain itu jika setelah UTS atau UAS, nilai - nilai kedua ujian tersebut gak akan gue keluarkan dalam tempo yang singkat. Gue akan mengeluarkan nilai - nilai itu dalam tempo paling cepat 6 bulan atau paling lama 1 tahun. Biarkan mahasiswa yang menagih nilai - nilai tersebut karena itu kebutuhan mereka sebagai mahasiswa. Gue tau itu hak mahasiswa tapi gue gak bicara hak. Gue berbicara mengenai "membutuhkan".
Biar mereka menterror gue dengan telphone atau sms. Disatu sisi, gue juga sedang melihat kondisi psikologis mahasiswa tersebut.
Gue akan memberikan sebuah pengharapan palsu kepada setiap mahasiswa yang menghubungi gue dan menanyakan mengenai nilai - nilai mereka.

Lagi - lagi psikologis. Ya, jika gue jadi dosen, gue akan mempermainkan kondisi psikologis mahasiswa. Gue akan memberikan mereka semacam "adrenalin", jadi dengan begitu mereka akan terlihat siapa mereka sebenarnya. Penjilat kah? Atau tetap sabar dan bertahan tanpa harus menjilat?.
Jika gue jadi dosen, mahasiswa penjilat akan gue beri "pelajaran khusus". Itu karena gue benci penjilat dan gue bukan penjilat.

Cukup absurd kan gue jika jadi dosen? Tapi percayalah, dosen absurd macam gue ini akan menjadi suatu tantangan tersendiri bagi mahasiswa, terlebih bagi mahasiswa tingkat akhir. Dan itu akan memberikan kesan TERDALAM setelah lulus nanti. hahahaha,,,,,,,,,,,,,,,,



Note ini BUKAN dan TIDAK ada niat untuk menjelek - jelekan profesi sebagai dosen.
Ya walaupun jujur, gue yang nulis ini merasa kesal dengan adanya oknum dosen yang berlaku semena - mena dalam memperlakukan mahasiswa. Seolah ada kasta pembeda antar mahasiswa, antara si penjilat dengan anti-penjilat. Dan merasa dipermainkan dalam urusan nilai yang selalu dibarengi dengan alasan - alasan klasik, seperti "Ibu/bapak masih sibuk jadi belum sempat ngasih kebagian akademik/belum sempat input", padahal kerjaannya cuma ngopi dan makan gorengan serta nge'gosip. Fak Men.
Atau alasan yang terdengar menjijikan, seperti "Aduh kebetulan bagian akademiknya udah berhenti dan belum ada penggantinya", jelas - jelas udah ada penggantinya. Benar - benar Fak Men.
Maklum lagi emosi tingkat melebihi para dewa. Dewa aja tunduk sama tingkat emosi gue. Gak usah protes!!!!!!

Demokrasi itu apa sih?

Demokrasi, adalah sebuah sistem pemerintahan dengan ciri bahwa kekuasaan ada ditangan rakyat.
Demokrasi juga membebaskan semua orang untuk bersuara, bukan bersuara gak jelas di twitter ya (nge'twit atau dalam istilah gaulnya, berkicau).
Tapi gue menyimpulkan dengan secara sederhana, bahwa demokrasi itu bebas berbacot. Dan gue juga mendeskripsikan bahwa demokrasi itu juga sistem pemerintahan yang cacat secara mental.
Orang banyak bilang bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang cocok untuk negara yang sedang berkembang. Satu pertanyaan kecil, Indonesia sudah menganut sistem demokrasi setelah adanya reformasi 1998 dengan diadakannya pemilu yang katanya bersifat demokratis tapi setelah 15 tahun kemudian, perpolitikan Indonesia kok makin kacau?

Sejak pemilu 1999, parpol - parpol banyak bermunculan. Sebelum adanya reformasi, parpol cuma ada 3. Golongan agama yang diwakili oleh PPP, golongan nasional yang diwakili oleh PDI yang kemudian ber'evolusi menjadi PDI-P, dan golongan bebas yang diwakili oleh Golkar. Dan ironisnya dalam 32 tahun, selalu saja dimenangi oleh partai yang sama. (Gue gak perlu sebut partai apa, jika kalian yang paham sejarah politik era orde baru, kalian pasti tau partai yang gue maksud).

Gue juga selalu heran dengan "kampanye" demokrasi yang selalu Amerika usung. Maksudnya biar apa sih?
Karena belum tentu sistem itu cocok dan bisa berkembang dinegara yang disambangi oleh Amerika dalam meng'kampanye kan demokrasi. Kalo gue sih, jika negara itu cocok dengan sistem diktator dan tirani, ya udah biarin aja, jika sistem tersebut bisa membawa negara itu maju dengan mandiri, rakyatnya juga gak ada yang protes. (Gue tau pemikiran gue radikal, jadi gak usah protes. Hargai pendapat orang lain. Ciri demokrasi, semua orang bebas berpendapat, hahahahaha...........)

Gue itu selalu membayangkan arti "rakyat" dalam sistem demokrasi ini sebagai seorang yang lumpuh, gak bisa jalan dan harus naik kursi roda biar bisa bebas pergi kemana pun dan si demokrasi itu sendiri itu sebagai orang yang selalu mendorong kursi roda tersebut agar bisa menjalankan "roda" pemerintahan dan bermanuver sesuka hati si yang dorong kursi roda tadi. Berarti dengan sangat simple didapatkan gambaran bahwa rakyat memilih seseorang yang katanya bisa mengerti pikiran rakyat untuk menjalankan roda pemerintahan tapi orang tersebut terkadang suka seenak sendiri. Terbayang jika orang yang mendorong kursi roda tersebut membawa si orang cacat naik kursi roda tadi dibawa kesebuah jurang lalu mendorongnya jatuh, dalam arti nyata bahwa si orang yang dipercaya untuk menjalankan roda pemerintahan itu membawa negara dan bangsa ini kesebuah jurang dan menjatuhkannya kedalam jurang, maka dapat diartikan bahwa negara dan bangsa Indonesia akan jatuh dan lenyaplah sudah negara Indonesia dikarenakan salah menerapkan sistem pemerintahan.

Satu pernyataan besar muncul, jika seperti itu maka dimana letak kekuasaan absolut rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi berdasarkan sistem demokrasi yang ternyata masih harus tunduk terhadap rejim yang berkuasa?

Terkadang gue selalu bertanya sama diri gue sendiri mengenai demokrasi ini. Sebuah pertanyaan simple, siapa sih yang menciptakan demokrasi sebagai sistem pemerintahan? Apakah sistem ini memang benar - benar bagus dan berjalan dengan baik pada masa ketika sistem ini muncul dan dianut sebagai sistem pemerintahan?
Apakah si pencipta sistem ini sadar bahwa sistem ini merupakan sebuah sistem yang abstrak, karena masih mengacu kepada sebuah kediktatoran namun tak terlihat dengan kasat mata? Karena pada nyata nya si pemegang kendali kekuasaan tidak mau mendengarkan aspirasi rakyat (dengan alasan klasik, lelah karena terlalu banyak orang yang komplain atau memang sengaja tidak mau mendengarkan? terus buat apa adanya lembaga - lembaga perwakilan? buang - buang duit aja) dan bertindak sesuka hati lalu menjerumuskan negara pada hutan luar negeri yang bengkak dan masih ditemukan praktek officaldome dalam tubuh birokrasi.

Karena demokrasi ini, perpolitikan Indonesia semakin kacau. Makin banyak nama bermunculan dan ingin menjadi "supir" dari sebuah negara yang bernama Indonesia. Setiap nama tersebut berebut untuk menjadi rejim berkuasa dengan mempunyai nama atas rejim tersebut. Lalu pasti memunculkan adanya praktek officialdome dalam tubuh partai penguasa dalam setiap tubuh birokrasi di Indonesia.
Lagi, lalu dimana letak kekuasaan berada ditangan rakyat yang sudah dilegitimasi dengan adanya sistem ini?

Jadi demokrasi itu apa sih dalam arti yang sebenarnya? (bukan penjelasan dari buku, ensiklopedia atau wikipedia. gue gak butuh itu, yang gue butuhkan jawaban berdasarkan analisa)

Bagi kalian yang mugkin muncul pertanyaan mengenai ini, seperti "sumpah, ini note gak penting dan pertanyaannya kaya anak SD yang masih belum tau apa - apa?".
Gue mau tanya balik, SEJAUH MANA LU NGERTI SOAL DEMOKRASI?
DAN DAMPAK APA YANG LU DAPAT DARI DEMOKRASI?
SERTA APA HASIL DARI DEMOKRASI BAGI SISTEM POLITIK INDONESIA? MAKIN BAIK ATAU TAMBAH BURUK?

Sebelum memunculkan tanya soal note gue, lebih baik jawab dulu pertanyaan gue.
Terima Kasih.

Friday, 12 April 2013

Rintihan Hati Yang Terdalam

Gue lahir pada tahun 1991 dan terlahir sebagai anak ke-empat dari empat bersaudara, secara taktis gue ini anak paling bungsu dan dimanja oleh orang tua maupun kakak - kakak gue. Sebut saja nama gue Kunti.
Gue lahir disebuah pulau yang bernama Batam.
Dikota itu gue habiskan hampir seluruh hidup gue dengan penuh keistimewaan. Perlakuan dan perhatian istimewa dari keluarga maupun teman - teman SMP atau SMA sehingga menjadikan gue sebagai anak yang manja dan terbiasa hidup praktis.
Untuk urusan percintaan, sebenarnya gue naksir seorang cowok tapi gue takut untuk menyatakannya dan akhirnya gue lebih milih untuk memendam perasaan.

Pada tahun 2009, gue pindah ke kota Bandung untuk kuliah. Awal kehidupan gue di Bandung dihabiskan dengan menjadi mahasiswa kupu - kupu (kuliah pulang - kuliah pulang). Gue jarang pergi bareng dengan teman - teman kampus. Gue baru dapat teman setelah beberapa lama tinggal di Bandung. Ya saat itu mayoritas teman - teman gue adalah sesama perantau dari Sumatera. Tapi disisi lain gue juga dekat dengan beberapa teman, seperti Jung, Minah, Kimonk dan Dode.
Kehidupan gue di kota Bandung ini awalnya biasa - biasa aja karena memang gue sendiri juga terbilang orang yang cuek terhadap sekitar.

Setelah 2 tahun hidup di Bandung, gue berteman dekat dengan Cung, Pet, Bony dan Al. Diantara mereka ber-empat, hanya Al yang bersikap baik sama gue. Lain dengan Cung, Pet dan Bony, gue selalu jadi korban hinaan mereka secara verbal. Hinaan verbal mereka selalu kadang membuat gue sakit hati ketika mereka meledek habis - habisan soal "hati" yang memang "hati" gue selalu dalam keadaan galau kalau gue balik dari Batam. Gue selalu senang ketika libur semester datang, karena itu artinya gue bisa balik ke Batam. Gue yang memang selalu merasa homesick jadi membuat gue kadang suka merasa gak betah tinggal di Bandung. Gue selalu ingin pulang, ingin lepas dari penatnya perkuliahan yang menjejal penuh sesak dikepala gue, ingin lepas dari hinaan tiga orang kampret itu, ingin merasakan kebebasan gue yang terenggut, ingin merasakan indahnya masa - masa waktu sekolah dulu bareng teman - teman SMA.

Saat liburan semester, sesuai rencana absurd yang udah gue rencanakan. Gue balik ke Batam dan udah membayangka banyak kesenangan saat gue ada disana. Dan ya memang, di kota kelahiran gue itu gue benar - benar menikmati hidup berdasarkan perspektif gue. Di Batam itu pula lah gue ketemu dengan seorang cowok yang udah lama gue taksir. Gue sempat jalan bareng sama dia, menghabiskan hampir masa liburan gue. Sebenarnya dia itu temen deket gue sedari sekolah dulu dan sejak saat itulah benih cinta dihati gue tumbuh tapi gue gak berani untuk menyatakan. Gue selalu ciut untuk mengungkapkan perasaan gue dan buat gue saat - saat bersama dia itu udah lumayan cukup memenuhi imajinasi gue. Memang dalam percintaan, gue ini gak seberuntung teman - teman gue. 

Gue selalu merasa sedih ketika harus meninggalkan Batam untuk kembali ke Bandung dalam menjalankan misi yang selalu membuat gue bosan.
Dan selalu membuat gue merasa sakit hati jika melihat dia entah lewat akun Facebook, Twitter atau BlackBerry Messanger yang meng'update status atau menganti display picture bareng ceweknya. Iya, dia udah punya cewek.
Tapi gue juga beruntung punya teman - teman dekat yang selalu ada buat gue. Biarpun mereka selalu meledek gue tentang hal - hal kecil tapi jujur ledekan mereka selalu gue rindukan saat gue ada di Batam. Ledekan mereka serasa seperti sihir yang terkadang mampu membuat gue move on dari keadaan gue yang selalu homesick, melupakan sejenak tentang dia, atau menambah kedewasaan gue yang menurut mereka tingkat kedewasaan gue agak mendingan dari sebelumnya. Dan gue juga jadi belajar mengenai arti hidup dari cerita pengalaman dan impian - impian beberapa teman dekat gue.
Satu komentar miris terlontar dari mulut abang gue ketika saat itu gue lagi pulang libur semester.
Keadaannya ketika itu ada sisa makanan gak habis dan hendak dibuang oleh abang gue tapi gue bilang jangan dibuang biar gue yang makan, lagian sayang kalo harus dibuang.
Seketika itu abang gue berkomentar "Susah kali hidupmu di Bandung dek? Gak biasanya kau kaya gini?".

Saat ini gue udah berada di semester akhir yang berada di ujung tanduk menunggu saat - saat sidang akhir.
Saat ini juga gue merasakan kegalauan melebihi tingkat dewa yang menjadikan gue seperti orang gila.
Ini karena selain menunggu kepastian tentang sidang akhir juga karena dia. Libur semester lalu -yang menandakan gue resmi masuk semester akhir dan udah gak ada lagi perkuliahan- gue berencana pulang ke Batam dan kembali ke Bandung pada bulan ketiga tahun ini. Setelah berada di bulan kedua tahun ini, gue langsung merasakan kegalauan ketika gue merasa bahwa dia "menarik ulur" hati gue. Ya layaknya manusia normal lainnya, gue buka Facebook dan meng'update status mengenai perasaan gue. Diluar dugaan beberapa teman dekat gue lagi online dan si Cung komen distatus gue yang kemudian diikuti si Jung. Akhirnya kita bertiga saling komen distatus gue. Dan itu menjadikan gue tambah merasakan kegalauan, karena gue jadi kangen dengan mereka semua teman - teman dekat gue.

Bulan ketiga, sesuai rencana gue pulang ke Bandung untuk menyelesaikan bab terakhir skripsi dan menyerahkannya ke pembimbing. Awalnya semua berjalan biasa sampai suatu ketika gue melihat dia di BlackBerry Messanger. Gue nyapa dia dan dia merespon hingga akhirnya kita saling BBM'an.
Sampai beberapa hari yang lalu, gue meminta salah satu teman gue untuk mentranslate kan ke bahasa Inggris -gue kurang menguasai bahasa Inggris- sebuah kalimat yang akan gue kirim ke cowok yang gue taksir.
Teman gue pun membalas dengan isi pesan yang berbahasa Inggris, gue copy isi pesannya dan gue kirim di BlackBerry Messanger tepat di chat box yang bertuliskan namanya.
Gue merasa bahwa mungkin inilah waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hati gue, perasaan gue ke dia.
Namun ternyata dia tidak bisa memberikan jawaban dengan tegas karena dia juga udah punya cewek. Besoknya, gue janjian ketemu dengan salah seorang teman untuk menagih nilai dari dosen untuk keperluan syarat mengikuti sidang akhir. Ya teman yang janji ketemu sama gue dikampus itu orang yang sama yang gue mintai tolong untuk mentranslate. Temen gue datang, lalu kita ber-empat duduk di lobby kampus -bareng 2 teman gue yang lainnnya- untuk menunggu dosen tapi dosen itu gak jadi datang ke kampus. Lalu gue dan ketiga teman gue lanjut makan siang, setelah itu gue dan Cung pergi ke Gramedia untuk melihat - lihat buku. Setelah beberapa lama, Cung asik baca buku tentang "Menjadi seorang Drummer yang hebat". Gue ya cuma berdiri sambil BBM'an sama Minah dan memperhatikan launching buku dari salah seorang penulis. Setelah sekian lama muter - muter gak jelas didalam Gramed, Cung asik duduk baca bukunya Raditya Dika  dan gue duduk memperhatikan sekitar.
"Kok dari tadi yang lewat cewek cantik mulu ya? Cowok gantengnya kapan lewat?", ujar gue yang sibuk nyari cowok ganteng
"Lu mau cowok ganteng lewat didepan lu? Sini gue ludahin dulu lu nya biar cantik, gue jamin cowok ganteng langsung seliweran", bales si kampret itu sambil cengengesan baca buku si Raditya Dika
Gue yang dengernya langsung merasa sakit hati karena gue pikir apa segitunya ya nasib gue sampai cowok ganteng pun gak ada yang lewat.
Terus gue lanjut ngomong, "Cung, sakit hati gue. Gue selalu kepikiran dia. Gue udah bilang perasaan gue ke dia tapi dia gak bisa kasih jawaban yang tegas. Dia udah punya cewek Cung".
"Ya udah pasti lah dia pilih ceweknya, Kun" balas orang autis itu sambil ketawa - ketawa
"Tapi dia bilang kalo gue ini hebat karena bisa sampai bertahun - tahun gue pendam perasaan ini dan baru kemarin gua bilang", ungkap gue yang sambil ingin nangis
"Hatiku hanya untuknya tapi hatinya belum tentu untukku, ingat itu Kun", pernyataan Cung yang buat gue sadar.
Mungkin emang benar kalo hati gue ini selalu untuknya, selalu memikirkannya tetapi hatinya belum tentu untuk gue.
"Gue ini cowok, gue tau jalan pikiran dia. Dia bersifat perhatian saat ini sama lu ketika lu set status "sick" di BBM. Dia emang salut sama lu yang udah pendam perasaan buat dia selama ratusan tahun dan dia juga merasa bersalah akan hal itu tapi dia juga gak bisa ninggalin ceweknya. Makanya dia perhatian sama lu dan seolah itu bentuk kepedulian dia tapi mungkin itu hanya pengalihan biar dia gak terlihat salah", kata - kata orang autis itu menyadarkan gue

Gue memang terlanjur sayang sama dia tapi dia gak pernah menyadarinya sampai gue sendiri yang bilang hal itu langsung ke dia.
Gue merasakan sakit hati yang dalam ketika mendengar kata - kata yang keluar dari dalam mulut Cung.
"Apakah benar dia melakukan itu hanya sebagai bentuk pengalihan?"
"Apakah benar hatinya memang bukan untuk gue?"
Kedua pikiran ini selalu mengganjal dikepala gue dan selalu membuat hati gue berdegup kencang saat memikirkannya dan membuat gue lemas tak berdaya sampai ingin menitikkan air mata.
Gue merasa bahwa gue ini hanyalah seorang cewek yang mungkin tidak ada harganya dimata dia.
Saat ini memang dia perhatian sama gue tapi apakah itu akan bersifat sementara seperti kata teman gue ataukah itu akan bersifat selamanya hingga pada akhirnya dia akan memilih gue, mungkin sebagai pendamping hidupnya kelak?

Rintihan ini gue curahkan untuknya dan gue harap kalo dia baca ini, dia akan mengerti akan perasaan gue.


Bandung, 12 April 2013



           D.M.R.



Gue cuma bisa mencoba menggambarkan perasaan teman gue yang gue samarkan namanya disini.
Entah dapat ide dari mana untuk menuliskan cerita hidupnya di blog gue. (Sebenernya sih kebetulan gue lagi bingung nyari bahan untuk gue tulis. Karena 2 bahan sebelumnya, masih belum selesai dan gue rasa masih belum cukup pas untuk diposting,,,,,,hehehehehehehehe,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,)

_Cung_

Apaan sih ini?

 Halo, selamat malam. Ini gue, seorang yang dulu pernah janji buat terus nulis disini tapi  kenyataannya seperti itu lah. Maklum namanya jug...